5 Feb 2011

Ada Gensi Di Balik Gelar Akademi

     Salah satu teman saya, kini bergelar SE alias Sarjana Ekonomi. dia di wisuda pada tahun 2008, dan tentunya dia berhak menempelkan titel SE di belakang namanya. walau hanya mendapat nilai pas-pasan, tapi dia sudah merasakan bahagia. karena telah keluar dari status 'anak kuliahan' yang selalu berkutat dengan buku-buku yang tebal. apalagi buku yang berkaitan ekonomi. kini, dia merasa bebas-lepas. bermodalkan ijazah S1 dia melamar di berbagai perusahaan. bidang pekerjaan yang dia pilih tentunya yang berkaitan dengan akademi'nya, seperti analisis perekonomian, finance, Accounting. namun, sayang usaha dia dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai keinginannya selalu gagal. kalau pun ada pekerjaan yang sesuai, kadang gajinya tidak sesuai dengan harapan. sebagai teman, kadang saya bingung dengan jalan pikiran dia. sepertinya dia tidak ingin menjalani proses dalam  mewujudkan impiannya. atau mungkin karena dia gengsi (*Malu). pernah, ada salah satu teman dia, menawarkan pekerjaan sebagai surveyor di salah satu dealer motor. tapi pekerjaan itu dia tolak, alasannya klasik, dia bilang "sedang menunggu pekerjaan yang lebih baik dan sesuai" secara gelar akademi dia adalah Sarjana Ekonomi. 
     Rentang tahun 2008 sampai akhir 2009, dia menjadi pengangguran. berhubung keluarga dia termasuk orang yang  berada dari segi ekonomi. jadi dia tidak terlalu mengkhwatirkan cost of living sehari-harinya. karena dia masih mendapatkan uang jatah mingguan  yang lumayan jumlahnya untuk dia sendiri. seiring berjalannya waktu,  akhirnya  teman saya itu mulai menyadari. bahwa pilih-pilih pekerjaan bukanlah hal yang bagus juga. mungkin juga dia merasa malu, kalau terus-terusan minta uang pada orang tuanya. meski orang tuanya sendiri tidak merasa keberatan. dia memulai langkah awal sebagai sales barang elektronik lalu setelah itu, dia bekerja sebagai sales marketing perumahan di daerah Bogor. dan mungkin karena sudah rejeki dia. di pertengahan tahun 2010 salah seorang saudara dia menawarkankan pekerjaan di Departemen Pemuda & Olaharaga, sebagai pegawai honorer. meskipun jabatannya sebagai pegawai honorer, tapi gajinya lumayan besar untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
     Memang tanpa disadari, semakin gelar pendidikan kita tinggi. kita semakin pilih-pilih pekerjaan yang sesuai. misal ketika kita telah meraih gelar S1 atau D3, lalu melakukan aktivitas kerja seperti jadi sales, staff marketing. awalnya kita tidak antusias dalam menerima pekerjaan itu. dan berpikir, pekerjaan itu tidak sebanding dengan gelar akademi yang kita miliki. dan yang lebih ekstrim lagi, apakah kita berani ketika telah punya titel S1 terus belum dapat pekerjaan. dan untuk mengisi kekosongan waktu yang ada, kita membuka usaha pengisian pulsa di pinggir jalan. apakah kita akan malu, atau malah sebaliknya?. bagi saya Gelar bukanlah segalanya, yang berperan besar dalam hidup ini adalah mental bertahan. saya teringat kata-kata umum yang biasa di ucapkan oleh banyak orang "Untuk menjadi orang sukses, jangan gengsi-an (*malu) dalam menjalankan pekerjaan, jalani saja dulu." ada pepatah kuno dari cina, 'langkah seribu di mulai dari langkah pertama'. angka yang penting dalam hitung-hitungan, bukanlah angka 1, 2, atau pun angka 3. tetapi angka yang penting itu adalah angka 0 (Nol). ini menunjukkan bahwa segala sesuatu tidak ada yang instant, semua butuh proses. teruslah berjuang dalam meraih impian, disertai dengan do'a dan usaha. hindari rasa gengsi meski kita telah meraih gelar akademi. SEMANGAT

7 komentar:

  1. ini orang yang sama dengan postingan sebelumnya ttg 'menjemput' itu kah kawan?

    salamku buat temanmu itu, aku jd ingat kata2 om mario teguh bahwa : titel dan gelar bukan jaminan untuk kesuksesan kita, tapi kesuksesan diraih oleh orang orang yang percaya bahwa ia mampu merubah jalan hidupnya itu, ia mencontohkan banyak org bertitel menjadi karyawan seorang pengusaha yg hanya lulusan SD saja. smoga ia termasuk orang yg percaya bahwa ia mampu merubahnya...

    BalasHapus
  2. @ Bunda Azka : yup, benar tokoh dalam cerita ini, sama dengan tokoh yang aku ceritakan di postingan mencari atau menjemput..:) sekarang dia sudah mulai berubah. dan perubahannya itu ke arah positif.. btw, selain teman akrab, dia juga lawan tanding main PS winning eleven...:)

    BalasHapus
  3. kenalin dong kang zico,,, sy kerja di Dinas Pemuda & Olahraga di kota saya,,, siapa tahu bisa memfasilitasi proyek dari pusat...haha :p

    BalasHapus
  4. Budiman As'ady6 Februari 2011 02.09

    Sebuah semangat untuk perubahan... mantap!!!

    BalasHapus
  5. @ Kang zulham : oke pasti saya kenalin kang.. iya kang di kerja di kantor pusat

    @ Budiman : tetep semangat.. :) yuk kita raih impian itu... ganbatte kudasai

    BalasHapus
  6. asik sekali kang........selalu isnpiratif tulisan2xnya......jadi ngiri

    BalasHapus
  7. Andai para sarjana itu punya pemikiran yang sama dengan anda, pasti pengganguran bisa diatasi di negeri ini :)

    BalasHapus

Setiap komentar yang disampaikan. adalah bentuk apresiasi yang sangat berarti bagi saya dari penikmat serba-serbi cerita di blog ini. salam blogger dan salam persahablogan