6 Feb 2011

Mengapa Dia Suka Soe Hok Gie?

Soe Hok Gie
     Mengapa dia suka dengan Soe Hok Gie? pertanyaan itu muncul seketika di pikiranku saat ini. lalu pertanyaan  lain berlari-lari di pikiranku, apa dia menyukai sikapnya yang kritis, yang mengharapkan perubahan bagi bangsa ini?, atau mungkin dia menyukai jalan pikiran Soe Hok Gie yang berani menyuarakan isi hati pada pemerintah tahun di 60-an. sedangkan orang lain, menyembunyikan suara vocal'nya. aku yakin dia lebih mengenal Gie, hapal tanggal lahirnya, semangat mudanya, jiwa idealismenya, dan jiwa pemberontaknya dalam menyuarakan kebenaran, tanpa ada rasa takut. seandainya Gie masih hidup. dia akan tersenyum melihat reformasi terjadi di negeri ini. juga dia bahagia, saat melihat kebebasan bersuara telah di miliki oleh setiap orang di negeri ini. tapi senyum dia mungkin hanya sesaat mengembang, di bibirnya. saat banyak kasus terjadi di negeri ini. kasus century belum beres, kasus Gayus, kasus mafia pajak dan kasus-kasus lainya. yang kalau di  pikirkan terus-menerus, akan mendatangkan rasa skeptis

      Sobat, aku mengenal Gie hanya sedikit. mungkin kalah jauh dibandingkan dengan mu. kira-kira tahun 2005, aku mengenal dia. itu pun lewat film Gie, yang di bintangi oleh Nicholas Saputra. lagu OST Gie, membuat aku merasa lebih akrab lagi dengan nama Sok Hok Gie. karena lagu itu adalah lagu Favourite aku.  saat mendengarkan lagu Cahaya Bulan,  aku merasa merinding saat mendengar lagu itu. membayangkan Gie sedang membaringkan tubuhnya di puncak gunung, sambil menatap ke atas langit, mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan hatinya. bukankah hobi Gie mendaki gunung-gunung yang tinggi?. hingga saat mencapai puncak gunung dia menemukan dirinya, dia temukan sejuta inspirasi di sana. Gie adalah seorang penggerak perubahan yang dinamis. dia wujudkan pemikirannya dalam bentuk sastra puisi. namun sayang, lagi-lagi aku hanya tahu sedikit tentang puisi  yang pernah dia buat. judulnya 'sebuah tanya'. sebuah puisi yang menggambarkan tentang pertanyaan-pertanyaan yang menari-nari di pikiran Soe Hok Gie.
     Aku tak mampu membuat tulisan yang punya nilai sastra sepertimu, Gie. aku tak mampu membuat puisi yang seakan punya ruh di setiap kata-katanya. sobat, saat membaca tulisanmu tentang Gie, di blogmu. seakan ada yang mendorong aku untuk mengenal dia kembali. dia yang hampir di lupakan oleh generasi muda sekarang. generasi yang mencari jati diri, mencari figure untuk jadi panutan, dalam memegang erat idealisme. entah mengapa Gie, kenapa generasi muda sekarang lebih mengenal Justin Bieber, dibandingkan denganmu. otak mereka telah terdoktrin oleh tayangan-tayangan murahan seperti infotainment, gossip. hingga pemikiran kritis mereka, lambat laun terkikis. ah.. ingin sekali aku bisa memutar waktu ke tahun 60-an.. hingga aku bisa bertemu denganmu Gie. belajar tentang idealisme, belajar menjadi anak muda yang kritis, belajar untuk berani menyuarakan isi hati. tapi aku harus menerima keadaan. karena waktu telah bergerak cepat meninggalkan masa itu.
      Gie, ketika aku mendengar puncak Mahameru aku ingat padamu. di sana engkau pergi meninggalkan negeri ini. padahal saat itu umurmu masih muda.  masih banyak 'cahaya bulan' yang mungkin, masih kau ingin berikan bagi bangsa ini. Gie aku tahu, kau senang bersahabat dengan alam. kau dapatkan kedamaian saat menyatu dengan alam. aku mengagumi karya sastra, juga puisi-puisimu. puisi mengajarkan untuk tidak menjadi seorang pengecut. engkau mengajarkan makna berani, mengeluarkan pendapat. meski itu mengadung resiko. aku teringat nasehat dari umar bin khatab "Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar anak pengecut jadi pemberani" 


I dedicated this posting for Achie. thanks for giving me an inspiration.

4 komentar:

  1. Budiman As'ady6 Februari 2011 13.53

    juga sedang ada pergerakan terjadi di timur tengah sana, mari kita doakan, suarakan kebenaran, menurunkan tiran yg berkuasa...

    "Awalnya adalah revolusi dengan semangat meletup-letup, setelah itu adalah kerja membangun dengan kesabaran berlipat-lipat. Tadinya hanya satu kalimat singkat, seterusnya adalah konsistensi hingga akhir hayat. Sebelumnya hanya lintasan ide dalam pikiran,
    selanjutnya adalah penelitian pembuktian yang menuntut ketekunan panjang. Jika semangat itu seperti sungai maka kesabaran harus seperti samudera."

    BalasHapus
  2. wah, dah beres yah?^^ hidup Gie!! sosok pembaharu yg memg shrusnya tidak terlupakan.

    satu yg mau kutambahkan, inspirasi tidak melulu milik orang lain. sebenarnya kita punya di alam bawah sadar masing2. asumsikan sebagai kesatria yg sedang tidur^^, hanya butuh sedikit sentilan untuk membangunkannya. setelah itu, akan mengalir begitu saja.. lalu.. tattadaaa.. its coming into reality^^

    BalasHapus
  3. wah.. gie versi lainnya, aku jg udh baca yg di blognya acilong... nice..!

    BalasHapus
  4. saya ingat waktu baru lulus SMA,,, buku yang pertama yg harus saya kuasai adalah Catatan Seorang Demonstran. Saya sadar, untuk menghadapi senior2 dalam pengkaderan di perguruan tinggi nanti, saya harus punya ilmu ttg pergerakan kemahasiswaan, dan Gie saya rasa tepat menjadi referensi awal saya... :)

    BalasHapus

Setiap komentar yang disampaikan. adalah bentuk apresiasi yang sangat berarti bagi saya dari penikmat serba-serbi cerita di blog ini. salam blogger dan salam persahablogan